berita.akasta.ac.id – Sebuah demonstrasi berlangsung di luar Spheres milik Amazon di Seattle, di mana sekelompok sekitar dua puluh orang menyerukan perusahaan untuk menghentikan dukungannya terhadap Israel terkait situasi di Gaza. Para pengunjuk rasa yang menggunakan pengeras suara dan membawa poster menggambarkan eksekutif Amazon sebagai penjahat perang, berusaha untuk mengganggu apa yang mereka percayai sebagai pertemuan yang dihadiri oleh para eksekutif Amazon serta pejabat negara dan lokal.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis malam, sehari sebelum pertandingan Piala Dunia antara AS dan Australia. Menurut Amazon, acara yang sedang berlangsung saat demonstrasi adalah untuk komunitas bisnis dan olahraga Seattle serta anggota parlemen Australia yang merayakan Piala Dunia. Pihak Amazon menegaskan bahwa pertemuan terpisah yang dimaksud sudah selesai sebelum demonstrasi berlangsung.
Amazon menghormati hak individu untuk melakukan demonstrasi publik secara damai. Namun, kelompok pengunjuk rasa yang menamakan diri mereka Amazon Worker Intifada merasa aksi tersebut adalah bagian dari upaya untuk menekan pimpinan perusahaan mengenai masalah kerja sama dengan Israel, terutama terkait kontrak bernilai $1,2 miliar untuk layanan cloud yang mencakup militer Israel.
Dalam aksinya, para demonstran mengelilingi Spheres dengan membawa spanduk, drum, dan bendera Palestina, serta meneriakkan yel-yel menuntut agar Amazon berhenti berperan sebagai pemasok perang. Beberapa pekerja Amazon dan penggemar sepak bola yang lewat sempat berhenti untuk menyaksikan aksi tersebut.
Salah satu pemimpin protes, Ahmed Shahrour, seorang insinyur perangkat lunak Palestina yang dipecat oleh Amazon, menegaskan bahwa perusahaan harus bertanggung jawab atas keterlibatannya dengan Israel. Menanggapi tindakan demonstrasi ini, pihak Amazon menyatakan tidak mentolerir diskriminasi atau perilaku mengancam di tempat kerja dan berkomitmen untuk melakukan tindakan yang tepat jika terdapat laporan mengenai masalah tersebut.