berita.akasta.ac.id – Microsoft Chief Sustainability Officer Melanie Nakagawa menghadapi beragam pertanyaan tajam dari audiens dalam sesi diskusi pada Pacific Northwest Climate Week yang diadakan di Seattle. Dalam sesi yang berlangsung selama 30 menit di City Hall pada hari Jumat lalu, para pengunjuk rasa menantang komitmen lingkungan Microsoft, terutama terkait penggunaan sumber energi fosil untuk pusat data AI perusahaan tersebut.
Sebagai moderator, saya mencatat bahwa banyak isu yang diangkat oleh peserta diskusi sejalan dengan pertanyaan yang saya siapkan untuk Nakagawa. Selama sesi berlangsung, beberapa pengunjuk rasa yang berada di antara penonton melontarkan seruan yang bukan hanya berkaitan dengan isu iklim, tetapi juga menyoroti kesepakatan teknologi Microsoft dengan Israel.
Penjaga keamanan akhirnya mengusir beberapa pengunjuk rasa, meski sebagian lainnya tetap bertahan, dan gangguan dari audiens terus berlanjut hingga sepuluh menit terakhir diskusi. Acara ini merupakan penutup mingguan yang menyuguhkan berbagai diskusi terkait solusi, kebijakan, dan inovasi menghadapi perubahan iklim di kota dan wilayah tersebut.
Microsoft selama ini dikenal sebagai pemimpin dalam lingkungan korporat, dengan ambisi menjadi karbon negatif dalam satu dekade ke depan. Namun, ekspansi cepat pusat data AI dengan permintaan energi besar-besaran menambah tantangan bagi perusahaan. Laporan keberlanjutan tahunan terbaru menunjukkan bahwa jejak karbon Microsoft meningkat 25% dalam setahun, menjauhkan mereka dari target tahun 2030.
Salah satu pertanyaan pengunjuk rasa menyoroti kesepakatan baru-baru ini dengan Chevron untuk membangun fasilitas gas alam 2,7 gigawatt di Texas. Nakagawa menyebut dukungan Microsoft terhadap 4,7 gigawatt energi terbarukan di negara bagian tersebut sebagai salah satu alasan mempertahankan kesepakatan tersebut. Dia juga mencatat bahwa Microsoft mulai membagikan informasi tentang penggunaan listrik dan air di pusat data global mereka, sebagai upaya transparansi yang kini semakin diminta oleh publik.
Menjawab pertanyaan tentang pencapaian target karbon negatif pada 2030, Nakagawa mengakui bahwa tantangan tersebut sangat besar dan tidak bisa dianggap sepele. Namun, dia menekankan adanya inisiatif yang menunjukkan kemajuan nyata, termasuk investasi pada teknologi rendah karbon.