berita.akasta.ac.id – Tim pendiri Talairis Law Group, Sam Shaddox dan Matt Souza, mengenalkan inovasi baru di dunia hukum yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan layanan legal yang lebih terjangkau. Talairis, yang diluncurkan pekan ini di Seattle, bertujuan untuk mengurangi biaya hukum yang dipungut firma besar kepada perusahaan rintisan, dengan memanfaatkan AI untuk menangani tugas-tugas hukum yang biasanya dilakukan oleh para pengacara junior.
Kedua pendiri, yang sebelumnya bekerja di firma hukum terkemuka di Seattle dan menjabat sebagai penasihat umum di perusahaan teknologi, menyaksikan bagaimana firma hukum membebankan biaya tinggi untuk layanan yang bisa diotomatisasi. Menurut Shaddox, “Ini adalah startup yang kita butuhkan di era AI, dan waktu yang tepat untuk mengubah cara kerja firma hukum.”
Meskipun banyak firma hukum berbasis AI telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, Shaddox dan Souza menyebutkan bahwa sebagian besar dari mereka hanya fokus pada satu bidang praktik, meninggalkan ruang kosong yang dapat diisi oleh Talairis. “Tidak ada firma hukum berbasis AI yang dapat diandalkan untuk membantu dalam berbagai aspek hukum sehari-hari,” ujar Souza.
Talairis dibangun dengan arsitektur empat lapis yang terdiri dari model bahasa besar sebagai mesin AI, lapisan agen AI yang menangani berbagai tugas hukum, dan “genom klien” untuk memberikan layanan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan klien. Shaddox menekankan bahwa klien tidak hanya menerima pendapat hukum, tetapi juga hasil yang spesifik dan relevan dengan situasi mereka.
Dengan tarif yang lebih rendah dibandingkan firma besar, Talairis memastikan privasi data klien dengan tidak menggunakan informasi mereka untuk melatih model AI. Peluncuran ini bertepatan dengan peluncuran produk AI terbaru lainnya, yang menunjukkan bahwa pendekatan unik Talairis dapat memberikan layanan hukum yang lebih efektif bagi perusahaan rintisan.

