berita.akasta.ac.id – Tren pengurangan tenaga kerja di sektor teknologi semakin meningkat, dengan pergeseran yang mencolok di latar belakang perusahaan yang mencatat keuntungan rekor. Tahun ini, diperkirakan sekitar 363 pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di perusahaan teknologi, mempengaruhi hampir 150.000 orang, angka yang lebih cepat 44% dibandingkan tahun lalu. Menurut Challenger, Grey & Christmas, bulan lalu menjadi bulan terburuk dalam dua tahun terakhir dengan hampir 40.000 pekerja dipecat, salah satunya dengan alasan penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Meskipun banyak perusahaan mengklaim AI sebagai penyebab utama PHK, skeptisisme berkembang terkait kenyataan tersebut. Sebagai contoh, CEO Block, Jack Dorsey, yang mengurangi hampir setengah dari karyawan, awalnya menampik bahwa pemecatan tersebut adalah indikasi masalah, dan lebih menekankan pada AI yang mengubah cara perusahaan beroperasi. Namun, ia kemudian mengakui bahwa perusahaannya memang mengalami berlebih dalam perekrutan.
Pakar teknologi seperti Marc Andreessen juga mengkritik penggunaan AI sebagai “alasan utama” untuk pemecatan, lebih menganggapnya sebagai akibat dari manajemen yang buruk. Sementara itu, tren pertumbuhan kekayaan di kalangan pelaku industri AI berlanjut. Perusahaan seperti Cerebras Systems mencatat lonjakan nilai saham setelah IPO, menghasilkan miliarder baru di tengah gelombang PHK di industri lain.
Di San Francisco, rumah-rumah dengan harga tinggi jual laris, mencerminkan ketimpangan antara orang yang dipecat dan kalangan elit yang meraih keuntungan dari teknologi AI. Hal ini terjadi di tengah kenaikan biaya hidup dan kekhawatiran umum tentang masa depan ekonomi, di mana survei terbaru menunjukkan 76% warga Amerika merasa khawatir akan biaya hidup.
Situasi yang terjadi semakin menunjukkan adanya ketidakadilan ekonomi, dengan satu kelompok semakin kaya dari kemajuan teknologi yang diklaim menjadi penyebab kehilangan pekerjaan bagi yang lain. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang arah masa depan industri dan tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan mereka.

