berita.akasta.ac.id – Kecerdasan buatan sumber terbuka mengalami perkembangan pesat, menurut CEO Hugging Face, Clem Delangue. Perusahaan ini telah berkembang menjadi platform mirip GitHub untuk kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir, memungkinkan para pengembang untuk membagikan dan mengunduh model serta dataset terbuka. Saat ini, sekitar setengah dari perusahaan Fortune 500 memanfaatkan sumber daya ini. Delangue mengamati pola yang sama berulang kali, di mana perusahaan yang memulai dengan API lanjutan akhirnya beralih ke model sumber terbuka akibat tekanan biaya saat mereka berkembang.
Dalam episode podcast Equity dari TechCrunch, Delangue membahas pentingnya perdebatan antara sumber terbuka dan tertutup, terutama setelah penghentian rilis Fable oleh Anthropic. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kemungkinan beberapa perusahaan besar mengendalikan sektor ini secara dominan.
Dalam diskusi tersebut, Delangue juga mengungkap fakta bahwa laboratorium di Cina memproduksi sebagian besar model terbuka yang banyak diunduh di Amerika Serikat. Ia menilai hal ini sebagai masalah yang perlu diatasi, bukan alasan untuk meragukan keandalan sumber terbuka. Selain itu, Hugging Face memilih efisiensi modal daripada mengikuti strategi penggalangan dana Silicon Valley yang umum. Pada tahun lalu, perusahaan ini menolak investasi besar dari Nvidia.
Delangue juga menyoroti pentingnya AI terbuka dalam bidang robotika, yang dianggapnya lebih mendesak dibandingkan dengan alat percakapan atau pemrograman, mengingat keterlibatan robot dalam kehidupan rumah tangga dan keluarga. Berita mengenai perkembangan ini menyoroti perubahan signifikan dalam penggunaan teknologi AI dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.

