berita.akasta.ac.id – Perusahaan asal Tiongkok, Moonshot AI, baru saja meluncurkan versi terbaru dari model Kimi, yang memicu perdebatan baru mengenai kecerdasan buatan (AI) open source di negara tersebut. Kimi K3, meskipun masih tertinggal dibandingkan model proprietary terkuat seperti Claude Fable 5 dan GPT 5.6 Sol, diklaim telah menunjukkan performa yang luar biasa dalam berbagai pengujian, melebihi model-model lain yang diuji.
Peluncuran ini bertepatan dengan pernyataan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Konferensi AI Dunia di Shanghai, yang sekaligus membuat kekhawatiran di Wall Street. Saham di Nasdaq turun sekitar 1% pada hari Jumat akibat investor menjual saham perusahaan chip, termasuk Nvidia. Berbagai analisis independen membandingkan Kimi dengan model-model terdepan, menandakan bahwa Kimi bersaing dengan model unggulan global.
Menyusul peluncuran ini, beberapa tokoh di industri teknologi memberikan reaksi yang beragam. David Sacks, mantan pejabat AI di pemerintahan Trump, mengkritik lambannya perkembangan di AS yang menghambat inovasi melalui regulasi yang berlebihan. Dia menyatakan bahwa pendekatan tersebut bisa mengakibatkan AS kalah dalam persaingan AI global.
Sementara itu, Travis Kalanick, mantan CEO Uber, mendesak perlunya penegakan terhadap praktik distilasi model AI, terutama di tengah kekhawatiran bahwa model-model Tiongkok mungkin hanya ‘mengambil’ hasil dari model-model AI Amerika.
Di sisi lain, Dean Ball dari OpenAI berpendapat bahwa meskipun Kimi adalah model yang sangat baik, ada risiko potensial yang mengancam dari open source yang dikelola pemerintah Tiongkok. Dia mencatat bahwa masa depan dengan model open-weight bisa mengarah pada “komunisme AI”, di mana AI diperlakukan sebagai infrastruktur publik oleh negara.
Meskipun terdapat banyak kekhawatiran, beberapa analis seperti Shakeel Hashim berargumen bahwa banyak ketakutan ini terlalu berlebihan, mengingat bahwa Kimi mungkin tidak memiliki kemampuan siber yang berbahaya saat ini.

