berita.akasta.ac.id – Pemerintahan Trump dilaporkan telah meminta OpenAI untuk menunda peluncuran model terbarunya, GPT-5.6, akibat kekhawatiran terkait masalah keamanan. Permintaan ini disampaikan di tengah upaya pemerintah AS untuk mengendalikan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bisa menimbulkan risiko, menurut laporan dari sebuah media informasi terkemuka.
CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkapkan kepada para karyawan bahwa model tersebut akan dirilis dalam bentuk pratinjau terbatas, yang hanya bisa diakses oleh sejumlah kecil pelanggan perusahaan. Keputusan ini diambil untuk memenuhi permintaan dari pemerintah federal, yang akan menyetujui akses bagi pelanggan secara individual selama masa pratinjau tersebut. Langkah ini menandai perbedaan signifikan dengan perlakuan yang diterima oleh pesaing OpenAI, Anthropic, yang baru-baru ini mendapat ultimatum dari pemerintahan untuk menghentikan akses terhadap model Mythos 5 dan Fable 5.
Selain itu, pemerintah mengeluarkan arahan kontrol ekspor yang melarang “kewarganegaraan asing” mengakses teknologi tersebut, termasuk karyawan Anthropic yang bukan warga negara AS. Pendekatan regulasi yang ketat terhadap AI ini menimbulkan keprihatinan di kalangan industri teknologi, terutama setelah janji pemerintah untuk mengambil pendekatan yang lebih mempercepat untuk pengembangan teknologi ini.
Kekhawatiran mengenai keamanan yang mendasari keputusan ini tampaknya mulai terwujud, dan muncul dengan cara yang tidak merata, tergantung pada perusahaan yang terlibat. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dengan aspek keamanan nasional di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

