berita.akasta.ac.id – Startup pelatihan AI bernama Shift baru-baru ini mengumumkan program pembersihan gratis untuk rumah-rumah di New York. Rencananya, mereka juga akan memperluas layanan serupa ke kota lain, termasuk London. Inisiatif ini terlihat menarik, tetapi ada syarat di balik penawaran tersebut.
Sebagai ganti layanan pembersihan, Shift meminta akses ke rekaman video aktivitas pembersih mereka, seperti mencuci piring, menyeka meja, dan mengepel lantai. Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam pengembangan robot pembersih. Proses pengembangan teknologi robot menjadi tantangan tersendiri karena robot harus memahami konsep dunia fisik, termasuk ruang, gerakan, dan berbagai faktor yang sulit dijelaskan.
Pengajaran mesin untuk melakukan tugas sehari-hari seperti melipat baju atau menuangkan air memerlukan data yang banyak dan berkualitas. Sementara konten digital bisa mudah didapat dari internet, pengumpulan data fisik memerlukan pendekatan yang berbeda dan seringkali menghadapi kendala. Beberapa perusahaan di India, seperti Pronto, juga mengikuti langkah serupa dengan merekam aktivitas rumah tangga untuk pelatihan AI.
Namun, praktik ini tidak lepas dari kritik. Banyak pelanggan mempertanyakan manfaat dari partisipasi mereka, dan sejumlah startup lain menegaskan bahwa mereka tidak merekam aktivitas di rumah pelanggan. Beberapa perusahaan alternatif menggunakan model kerja gig untuk mengumpulkan data secara langsung dari pekerja yang mengenakan perangkat perekam.
Tren ini menunjukkan bahwa pertukaran data untuk layanan gratis bukanlah hal baru, tetapi cara dan jenis data yang diperoleh kini semakin beragam. Shift berharap dengan menggabungkan layanan pembersihan gratis dan pengumpulan data, mereka dapat mengembangkan robot cerdas yang dapat membantu manusia di masa depan.

