berita.akasta.ac.id – Kekhawatiran mengenai risiko penggunaan model kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan semakin mencuat, terutama di kalangan penggiat AI di Silicon Valley. Mereka mencemaskan bahwa laboratorium besar yang mengembangkan model AI cenderung mengakses data sensitif dari perusahaan-perusahaan klien, yang dapat mengakibatkan persaingan tidak sehat di pasar.
Salah satu tokoh yang menyuarakan keprihatinan ini adalah CEO Microsoft, Satya Nadella. Dalam sebuah tulisan blog yang diterbitkan baru-baru ini, Nadella mengingatkan bahwa pengguna AI sebenarnya membayar dua kali: pertama untuk penggunaan token AI, dan kedua, tanpa disadari, mereka menyerahkan data berharga yang diperlukan agar kecerdasan tersebut dapat berfungsi optimal. Menurutnya, setiap interaksi dan umpan balik yang diberikan oleh pengguna dapat membentuk pengetahuan institusional yang tidak dapat dibeli oleh pesaing.
Nadella mengusulkan agar perusahaan mempertahankan hak kepemilikan atas data mereka termasuk umpan balik dan arahan kepada model. Dia juga mendorong perusahaan untuk mengembangkan “lingkungan pembelajaran” sendiri di cloud, guna menghindari ketergantungan pada model AI tertentu.
Selain itu, tren penggunaan model open source semakin meningkat, di mana perusahaan mulai beralih dari model proprietary setelah menyadari keuntungan dari biaya yang lebih rendah dan kontrol yang lebih baik. Idit Levine, CEO Solo.io, mencatat bahwa kliennya kini lebih sering mencari solusi open source yang bisa dioperasikan secara mandiri.
Dengan suara Nadella yang mendukung semangat ini, terlihat bahwa adopsi model AI open source akan terus meningkat, memberikan lapisan baru dalam penggunaan teknologi ini di dunia bisnis. Nadella menekankan, “Dalam mengonsumsi kecerdasan, Anda menciptakan kecerdasan. Apa yang Anda ciptakan seharusnya menjadi milik Anda.”

