berita.akasta.ac.id – Amazon terus melakukan inovasi melalui divisi AI agensinya yang dipimpin oleh Swami Sivasubramanian, Wakil Presiden Amazon Web Services (AWS). Dalam sebuah wawancara menjelang pidatonya di AWS New York Summit, Sivasubramanian menjelaskan perubahan signifikan dalam cara timnya bekerja. Fokus utama now adalah membuat prototip terlebih dahulu sebelum menulis dokumen tradisional seperti “PRFAQ”. Ini dianggap lebih efisien dalam mengembangkan produk yang akan diluncurkan.
Perubahan ini terjadi setelah tim menemukan bahwa alat pengkodean baru memungkinkan pengembangan perangkat lunak yang lebih cepat. Dengan pendekatan baru ini, tim kecil yang terdiri dari enam hingga delapan orang dapat menyelesaikan proyek yang dulunya memerlukan tim besar hingga 30 orang. Salah satu contohnya adalah aplikasi Amazon Quick, yang mengintegrasikan berbagai aplikasi dan menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas pengguna. Dalam waktu hanya tiga bulan setelah pengembangan dimulai, produk ini sudah diluncurkan.
Sivasubramanian juga mencatat bahwa penataan ulang tim kecil dalam divisi AI mencerminkan tren industri teknologi yang saat ini mulai mengutamakan organisasi yang lebih ramping. Hal ini sejalan dengan laporan Microsoft yang menunjukkan pentingnya penerapan teknologi baru bagi produktivitas. Meski beberapa pemotongan pekerjaan terjadi di banyak perusahaan, termasuk Amazon, Sivasubramanian menegaskan bahwa timnya kini mampu menangani proyek yang lebih besar dengan jumlah personel yang sama.
Proses pengujian pun diubah, kini dilakukan bersamaan dengan pengkodean untuk memastikan kualitas sebelum produk mencapai tahap akhir. Upaya ini menjadi krusial dalam penggunaan AI yang semakin dominan dalam industri teknologi. Dengan pendekatan tersebut, Amazon tidak hanya berupaya untuk mengurangi birokrasi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan efektivitas tim dalam menghasilkan produk teknologi yang inovatif.

