berita.akasta.ac.id – Hayete Gallot kini menjabat sebagai wakil presiden eksekutif Microsoft Security, memimpin perubahan besar dalam strategi keamanan perusahaan tersebut di era AI. Gallot, yang kembali ke Microsoft pada Februari 2026 setelah lebih dari satu tahun di Google Cloud, menggantikan Charlie Bell. Dalam wawancara baru-baru ini, Gallot menekankan pentingnya dua hal yang diperhatikan pelanggan: keamanan dan keterjangkauan.
Sejak kembali, Gallot tidak ragu melakukan perubahan signifikan, termasuk perombakan kepemimpinan di timnya. Dia menyatakan bahwa Microsoft memiliki potensi unik untuk menjawab tantangan terbesar dalam keamanan saat ini. Dengan pengalaman selama lebih dari 16 tahun di Microsoft, dia yakin perusahaan ini memiliki semua komponen untuk menyediakan solusi yang dibutuhkan oleh pelanggan.
Microsoft mencatat bahwa sektor keamanan berada dalam jalur yang menguntungkan, dengan proyeksi pendapatan mencapai 20 miliar dolar di tahun 2023. Perusahaan ini telah memperkenalkan berbagai produk keamanan, termasuk Entra untuk manajemen identitas dan Defender untuk perlindungan titik akhir. Dalam tahun ini, Microsoft juga meluncurkan Security Copilot, sebuah alat analisis AI yang bertujuan untuk mengintegrasikan beberapa penawaran keamanan.
Gallot menjelaskan bahwa keamanan “agentic” menjadi tujuan baru yang ingin dicapai. Ini melibatkan penggunaan AI untuk memberi wawasan real-time sekaligus mengambil tindakan secara otomatis untuk melindungi sistem. Menurutnya, pelanggan kini lebih fokus menggunakan AI saat mencari solusi di bidang keamanan.
Keberhasilan Microsoft dalam keamanan tidak terlepas dari kompetisi ketat dengan perusahaan lain seperti AWS dan OpenAI, yang juga mengembangkan alat keamanan. Gallot dan tim barunya ditantang untuk memanfaatkan teknologi AI demi meningkatkan bisnis sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pelanggan.

