berita.akasta.ac.id – Dalam kasus hukum yang melibatkan Elon Musk terhadap Sam Altman, OpenAI, dan Microsoft, CEO Microsoft, Satya Nadella, memberikan kesaksian penting mengenai keputusan investasi perusahaan tersebut terhadap OpenAI. Nadella menyampaikan bahwa Microsoft berencana untuk menginvestasikan tambahan $10 miliar pada OpenAI pada April 2022, dengan menghindari kesalahan yang dialami IBM di masa lalu.
Kesaksian ini terjadi di pengadilan federal Oakland, di mana Nadella menekankan bahwa keputusan untuk berinvestasi adalah langkah sepihak. Microsoft, menurutnya, tidak dapat membangun dua superkomputer sekaligus, satu untuk diri sendiri dan satu untuk OpenAI, sehingga harus berkompromi dalam hal sumber daya komputasi yang terbatas.
Lebih lanjut, Nadella mengungkap bahwa kemitraan ini menimbulkan ketergantungan besar terhadap pengembangan kekayaan intelektual OpenAI. Ia juga menyebutkan keinginannya agar Microsoft tetap memiliki akses terhadap kekayaan intelektual yang dihasilkan dari kolaborasi tersebut.
Ia memberikan detail terkait calon anggota dewan OpenAI yang pernah diajukan, menyebutkan dua nama yang ia tolak, yaitu Diane Greene dan Bing Gordon, karena hubungan mereka dengan perusahaan yang bersaing langsung dengan Microsoft dalam bidang kecerdasan buatan.
Sementara itu, Musk berargumen bahwa langkah Microsoft menjaga kepentingannya justru merugikan misi awal OpenAI yang bertujuan untuk mengembangkan AI bagi kemanusiaan. Dalam kesaksian, Nadella mengarahkan pandangan berbeda, menyebut kolaborasi ini sebagai upaya dukungan bagi laboratorium AI yang tengah berkembang.
Pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Yvonne Gonzalez Rogers ini diharapkan akan berlanjut hingga 21 Mei, dengan kemungkinan Altman dan saksi lainnya memberikan kesaksian di kemudian hari.

