berita.akasta.ac.id – Fenomena baru muncul di media sosial dengan munculnya influencer yang sepenuhnya diciptakan oleh kecerdasan buatan (AI) untuk menjual produk massal melalui platform seperti TikTok, Facebook, dan Instagram. Salah satu contoh adalah seorang influencer bernama Aliyah, yang menjadi terkenal dengan video meminta bantuan untuk bisnis aksesori berbentuk gesper yang tampaknya dibuatnya sendiri. Namun, setelah ditelusuri, Aliyah ternyata bukan individu nyata melainkan karakter yang dibuat oleh teknologi AI.
Karya-karya yang dipromosikan oleh Aliyah mengklaim sebagai produk handmade, meskipun kenyataannya banyak dari produk tersebut dapat ditemukan di situs belanja cepat dengan harga yang jauh lebih murah. Penelitian menunjukkan bahwa banyak video semacam ini, yang memiliki narasi hampir identik, dihasilkan untuk memikat audiens tanpa penyampaian kebohongan yang jelas. Dari sekian banyak akun yang ditemukan, karakter-karakter AI yang berinvestasi dalam narasi perjuangan yang menargetkan komunitas tertentu memperoleh banyak perhatian, khususnya dari generasi muda yang sering menggunakan media sosial.
Berdasarkan laporan, kehadiran influencer seperti Aliyah dapat berpotensi membungkus praktik penipuan dengan memanfaatkan rasa empati dari pengikutnya, terutama dalam komunitas yang berjuang. Praktik ini mengarah pada pertanyaan tentang keaslian dan etika dalam penggunaan AI untuk menciptakan persona. Peneliti menunjuk kepada ketidakadilan dalam privasi dan keaslian karakter yang diciptakan. Apa yang terlihat sebagai dukungan bisnis kecil seringkali sebenarnya adalah bagian dari strategi pemasaran cerdas yang bisa mengecoh banyak orang.
Dengan meningkatnya konten berpotensi menipu ini, penting bagi pembeli untuk meningkatkan kesadaran mereka mengenai informasi yang mereka terima di platform digital, sehingga tidak terjebak dalam tipu daya yang mungkin merugikan mereka.