berita.akasta.ac.id – Kepentingan Microsoft dan para lulusan yang menentang kecerdasan buatan (AI) ternyata sejalan. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Brad Smith, Presiden Microsoft, saat kembali ke perguruan tinggi yang pernah ia masuki, Universitas Princeton, dalam acara reuni baru-baru ini. Para mahasiswa mengenakan jas dengan label “100 persen kapas” dan “100 persen manusia,” mengacu pada tuduhan bahwa desain sebelumnya dibuat dengan campur tangan AI, yang mencerminkan penolakan yang lebih luas di berbagai kampus musim semi ini.
Dalam sebuah tulisan di blog, Smith mengungkapkan bahwa protes lulusan terhadap AI dalam momen wisuda di seluruh negeri memberitahukan pihaknya tentang kebutuhan industri. Ia menegaskan bahwa keberlangsungan Microsoft bergantung pada tersedianya lapangan kerja bagi masyarakat. Menurutnya, pekerja merupakan unsur penting bagi keberadaan Microsoft sejak awal.
Smith juga mengakui adanya ketegangan antara pesan ini dan pemutusan hubungan kerja yang terjadi di sektor teknologi, termasuk di Microsoft. Ia mencatat bahwa industri tengah mengalami transformasi luar biasa, sementara pengeluaran modal untuk AI dan ketidakpastian geopolitik mempengaruhi keputusan terkait pekerjaan.
Meskipun beberapa pekerjaan hilang, Smith menekankan bahwa banyak posisi akan berevolusi. Pekerjaan di bidang teknologi informasi, terutama dalam pemrograman, akan berubah dengan pengembangan peran yang lebih luas, seperti manajemen pengembangan produk dan desain perangkat lunak.
Dia mengimbau pekerja untuk memandang pekerjaan sebagai sekumpulan tugas. Dalam pandangannya, organisasi perlu membangun sistem AI mereka sendiri dan tidak hanya bergantung pada model dari pihak lain. Keterjagaan intelektual dan kedaulatan data menjadi perhatian utama dalam hal ini.
Menjelang akhir pembicaraan, Smith mengatakan kepada lulusan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi, meski tantangan yang dihadapi saat ini cukup signifikan. Ia mengajak generasi muda untuk menghadapi masa depan dengan harapan dan optimisme.