Ai2 Kembangkan Agen Pengkodean Open-Source Seperti Peralatan Dapur

berita.akasta.ac.id – Allen Institute for AI (Ai2) telah merilis model baru bernama SERA (Soft-Verified Efficient Repository Agents) yang memungkinkan pengembangan agen pemrograman canggih. Langkah ini bertujuan mengurangi dominasi perusahaan teknologi besar dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pengembangan perangkat lunak, dengan menyediakan resep dan bahan untuk membangun agen yang dapat dilatih menggunakan basis kode organisasi secara efisien dan murah.

Agen SERA, yang merupakan bagian dari seri Open Coding Agents oleh Ai2, menandai perubahan signifikan dalam rekayasa perangkat lunak. Berbagai alat proprietary seperti Microsoft GitHub Copilot dan Claude Code dari Anthropic sering kali membatasi pengguna pada sistem tertutup yang mahal. Dengan SERA, pengembang dapat mengatasi masalah yang dihadapi dalam pemrograman dengan lebih leluasa.

Proyek ini dipandu oleh Tim Dettmers, seorang ilmuwan riset di Ai2, dan Ethan Shen, seorang mahasiswa PhD di Universitas Washington, yang bertanggung jawab atas banyak pengembangan SERA. Dettmers menjelaskan bahwa berbeda dengan agen pemrograman lainnya yang memerlukan infrastruktur besar, tim kecilnya berhasil menciptakan SERA dengan hanya 32 GPU dan lima peneliti.

Agen SERA memiliki kemampuan untuk menganalisis bug atau masalah pada GitHub dan menghasilkan perbaikan secara otomatis. Setelah dioptimalkan pada basis kode tertentu, SERA dapat memahami API internal dan kebiasaan pengembangan perangkat lunak secara mendalam. Dengan kode dasar dan model pelatihan yang sepenuhnya terbuka, tim pengembang dapat menjalankannya pada infrastruktur mereka sendiri tanpa biaya lisensi berkelanjutan.

Versi terkuat SERA, SERA-32B, berhasil menyelesaikan lebih dari setengah masalah pemrograman dunia nyata yang sulit berdasarkan SWE-Bench, menjadikannya sebanding dengan model tertutup terkemuka lainnya. Selain itu, pengguna dapat mengkostumisasi SERA untuk basis kode pribadi mereka dengan biaya yang jauh lebih rendah, memungkinkan aksesibilitas yang lebih luas dalam pengembangan perangkat lunak yang inovatif.