berita.akasta.ac.id – Perkembangan terkini dalam dunia kecerdasan buatan diwakili oleh peluncuran Claude Science oleh Anthropic pada acara “The Briefing: AI for Science” minggu ini. Claude Science dirancang sebagai “workbench AI bagi ilmuwan”, yang menyatukan berbagai alat dan dataset dalam satu platform untuk menghasilkan visualisasi yang diperlukan dalam penelitian. Anthropic mengklaim bahwa teknologi ini dapat mempercepat signifikan penemuan ilmiah dan pengembangan intervensi kesehatan.
Eric Kauderer-Abrams, Kepala Ilmu Kehidupan di Anthropic, mengungkapkan komitmen perusahaan untuk mengembangkan obat-obatan, dengan fokus pada penyakit yang terabaikan. Aktivitas ini merupakan langkah strategis, mengingat banyak perusahaan AI lainnya, seperti OpenAI dan Google, juga menjalin kemitraan dengan sektor farmasi. Namun, langkah Anthropic untuk menghasilkan obat sendiri dapat dianggap sebagai upaya langsung dari perusahaan AI besar untuk terlibat dalam pengembangan obat.
Walau perusahaan menyatakan tujuan mulianya, detail spesifik mengenai rencana pengembangan obat masih minim. Pertanyaan mengenai kandidat obat potensial, serta kemungkinan kemitraan dengan perusahaan lain untuk pengujian klinis atau produksi, belum dijawab. Para ahli menunjuk bahwa kemajuan dalam AI masih diimbangi dengan tantangan dalam bidang pengembangan obat, termasuk kebutuhan akan data eksperimen yang berkualitas tinggi.
Dalam perjalanan panjang ini, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membawa obat yang dikembangkan dengan dukungan AI ke pasar. Belum ada obat yang dirancang sepenuhnya oleh AI yang telah melalui proses pengujian dan disetujui oleh regulator. Ini menunjukkan bahwa sambil AI bertindak sebagai alat bantu, pengembangan obat tetap tidak bisa sepenuhnya mandiri dari penelitian dan eksperimen tradisional.