berita.akasta.ac.id – Mencari apartemen di New York City saat ini tidaklah mudah, terlebih bagi para penyewa baru seperti Joyce. Setelah berbulan-bulan mencari, dia mengalami kesulitan menemukan unit yang sesuai dengan harapannya. Joyce mengeluhkan banyaknya apartemen kecil yang dijual dengan harga tinggi dan menyebut beberapa di antaranya sebagai “tempat yang tidak layak huni.” Namun, ia akhirnya menemukan studio impiannya di Manhattan, yang terlihat luas dengan perapian.
Sayangnya, saat melanjutkan kunjungannya, Joyce mendapati apartemen tersebut tidak sesuai dengan foto yang ditampilkan. Ruangan yang sebenarnya jauh lebih kecil, dan berbagai fasilitas, seperti kompor dan wastafel, tidak sesuai dengan gambaran yang ia lihat. Ia berpendapat bahwa banyak listing apartemen kini menggunakan teknologi AI untuk mengedit foto sehingga terlihat lebih menarik, namun dapat menipu calon penyewa.
Tren ini mengarah pada peningkatan penggunaan virtual staging, di mana agen real estate menggunakan perangkat lunak AI untuk memodifikasi gambar. Meskipun banyak yang menggunakan teknologi ini untuk membantu pembeli dan penyewa membayangkan penataan ulang, ada risiko penyalahgunaan yang signifikan. Penggunanya harus lebih hati-hati dalam menilai foto-foto yang mungkin dipikirkan sebagai manipulasi yang tidak etis.
Di beberapa negara bagian, termasuk New York dan California, telah ada langkah-langkah untuk mengatur penggunaan AI dalam iklan properti. Di New York, pelaku industri diharuskan mengungkapkan jika iklan menggunakan AI. Namun, pengaturan mengenai hal ini masih sangat bervariasi antar negara bagian. Joyce berharap agar pengalaman pencarian apartemen menjadi lebih transparan, tanpa adanya penipuan yang disebabkan oleh teknologi yang seharusnya memudahkan.