Amazon Ubah Usaha Logistik Jadi Bisnis Baru Saingi UPS dan FedEx

berita.akasta.ac.id – Amazon telah meluncurkan layanan baru yang menawarkan akses ke seluruh jaringan logistiknya bagi perusahaan pihak ketiga, melalui sebuah inisiatif yang dikenal sebagai Amazon Supply Chain Services. Peluncuran ini tidak hanya membuat saham UPS dan FedEx merosot, tetapi juga menandakan bahwa Amazon, di bawah kepemimpinan CEO Andy Jassy, terus berinovasi dengan memanfaatkan kemampuan internal untuk menghasilkan produk dan layanan yang dapat dijual.

Amazon Supply Chain Services diumumkan pada hari Senin dan menyatukan berbagai operasi pengiriman, distribusi, dan pemenuhan barang menjadi satu solusi yang dapat dimanfaatkan oleh bisnis dari berbagai sektor, tanpa harus menjual di platform marketplace Amazon. Beberapa klien awal yang telah menggunakan layanan ini termasuk Procter & Gamble, 3M, Lands’ End, dan American Eagle Outfitters. Mereka memanfaatkan jaringan pengiriman Amazon untuk mengangkut bahan baku, menggerakkan produk, dan melakukan pengiriman akhir.

Layanan ini juga dapat memenuhi pesanan dari platform yang bersaing dengan Amazon, seperti Walmart dan Shopify. Saham UPS anjlok hampir 10% dan FedEx turun lebih dari 9% pada perdagangan awal hari itu, sementara saham Amazon mengalami sedikit kenaikan. Menurut laporan, Amazon kini menjadi pengirim paket terbesar di Amerika Serikat.

Peter Larsen, wakil presiden Amazon Supply Chain Services, menyatakan bahwa peluncuran ini mirip dengan awal mula bisnis cloud Amazon. Pergerakan ini tidak hanya menantang para pemain lama di industri logistik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai privasi data. Meskipun Amazon telah membantah penggunaan data penjual untuk bersaing di marketplace-nya, kepastian atas keamanan data pelanggan tetap menjadi perhatian.

Langkah ini sejalan dengan tren Amazon dalam mengubah kemampuan internalnya menjadi bisnis eksternal, di mana perusahaan juga tengah mempertimbangkan untuk menjual teknologi AI dan robotika yang dikembangkan untuk keperluan internalnya. Amazon, dengan lebih dari 200 pusat pemenuhan di AS dan armada transportasi yang luas, menyatakan bahwa mereka mengirimkan 13 miliar item setiap tahun. Meskipun harga spesifik untuk layanan baru ini belum diungkapkan, Amazon menyebutkan biaya akan bervariasi tergantung pada layanan yang digunakan oleh bisnis.