berita.akasta.ac.id – Microsoft sedang menghadapi gugatan yang melibatkan CEO SpaceX dan Tesla, Elon Musk, terkait dugaan bahwa perusahaan tersebut membantu OpenAI dalam mengubah statusnya dari lembaga nonprofit menjadi entitas profit. Pada persidangan yang berlangsung Rabu, Kevin Scott, Chief Technology Officer Microsoft, memberikan kesaksian terkait email internal yang diklaim sebagai bukti oleh tim hukum Musk bahwa Microsoft mengetahui bahwa OpenAI beralih dari misi nonprofit sebelum melakukan investasi besar-besaran.
Dalam email yang dikirim pada 7 Maret 2018, Scott menyatakan keraguannya tentang apakah para donor OpenAI menyadari rencana tersebut. Dalam kesaksiannya, ia menekankan fokusnya pada apakah OpenAI memiliki otoritas untuk mengajukan rencana komersial kepada Microsoft, dan bukan menanyakan lebih jauh mengenai misi organisasi. Scott juga mengungkapkan bahwa seorang donor yang ia maksudkan bukan Musk, tetapi Reid Hoffman, salah satu pendiri LinkedIn.
Scott mengungkapkan bahwa dalam sebuah pertemuan di Flea Street Cafe, ia mengetahui bahwa Hoffman berinvestasi di entitas profit OpenAI dan bergabung dengan dewan nonprofit perusahaan tersebut. Microsoft kemudian melakukan penelitian menyeluruh sebelum memutuskan untuk menginvestasikan satu miliar dolar di OpenAI pada Juli 2019, yang merupakan bagian dari komitmen lebih besar senilai 13 milyar dolar.
Dalam sidang tersebut, Microsoft juga mengungkapkan bahwa total pengeluaran mereka terkait OpenAI, termasuk investasi dan biaya infrastruktur Azure, sudah mencapai lebih dari seratus milyar dolar. Musk menuntut ganti rugi hingga 134 milyar dolar dan mengklaim bahwa Microsoft memiliki kontrol efektif atas perubahan status OpenAI, meskipun Microsoft menyatakan bahwa mereka mengikuti kepastian kontraktual OpenAI yang tidak melanggar hak pihak ketiga. Persidangan ini diharapkan berlanjut dengan argumen penutup pada hari Kamis dan deliberasi juri yang akan dimulai pada hari Senin.