berita.akasta.ac.id – Sebanyak 8.750 karyawan Microsoft di Amerika Serikat, atau sekitar 7% dari total tenaga kerja, kini berhak mengikuti program pensiun sukarela yang diperkenalkan oleh perusahaan. Program ini diumumkan pada bulan April sebagai strategi untuk memangkas biaya dan merestrukturisasi tenaga kerja seiring dengan investasi besar-besaran Microsoft dalam teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di antara para karyawan yang memilih untuk mengambil pensiun ini adalah Shawn Mrzena, yang setelah hampir 25 tahun berkarier di Microsoft, memutuskan untuk kembali ke dunia perdagangan dengan belajar pengelasan dan fabrikasi logam. Mrzena mengungkapkan rasa syukur atas pengalamannya di perusahaan, merasa bahwa karirnya di Microsoft mirip dengan pendidikan MBA yang tidak dapat ditandingi.
Keputusan untuk mengikuti program tersebut muncul di tengah ketidakpastian akibat pemecatan yang terjadi di industri teknologi. Banyak karyawan yang memilih untuk meninggalkan perusahaan sebelum kemungkinan pemecatan ini terjadi, dengan harapan dapat mengendalikan masa depan mereka sendiri.
Program ini dirancang untuk karyawan di tingkat direktur senior dan di bawahnya, dengan syarat usia dan masa kerja mencapai total 70 tahun. Payout tunai dalam program ini bisa mencapai 39 minggu gaji, bersamaan dengan jaminan kesehatan penuh selama satu tahun bagi peserta pensiun dan keluarga mereka.
Walau banyak yang merasa senang dan bersyukur, program ini juga membuat beberapa karyawan merasa khawatir akan kehilangan pengetahuan dan pengalaman yang berharga di tengah perubahan cepat dalam organisasi. Meski demikian, beberapa yang berpartisipasi dalam program ini berencana melanjutkan karir mereka di bidang lain, menegaskan bahwa pensiun bukanlah akhir dari perjalanan mereka.