Waktu yang Tidak Tepat: CEO Xbox Kini Menjabat di Federal Reserve

berita.akasta.ac.id – Asha Sharma, CEO Xbox dari Microsoft, saat ini tengah menjadi sorotan publik akibat penunjukannya dalam panel baru Federal Reserve yang membahas produktivitas dan lapangan kerja. Penunjukan ini terjadi tiga hari setelah pengumuman pemutusan hubungan kerja terhadap sebanyak 3.200 karyawan, yang menjadi isu sensitif di kalangan pekerja dan media.

Panel yang dipimpin Sharma bertujuan untuk mengevaluasi dampak teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan, terhadap pasar tenaga kerja. Dalam kelompok ini, Sharma berkolaborasi dengan Marc Andreessen, seorang investor ventura, dan ekonom Stanford, Charles I. Jones. Penunjukan ini dilihat sebagai komitmen Federal Reserve terhadap stabilitas harga dan penciptaan lapangan kerja. Namun, fokus utama dari panel tersebut lebih terarah ke analisis bagaimana teknologi baru memengaruhi ekonomi.

Reaksi media terhadap situasi ini menunjukkan ketidakpuasan, terutama di kalangan industri game. Beberapa outlet menyoroti ironi penunjukan Sharma yang sekaligus mengumumkan pemutusan kerja besar-besaran. Tindakan tersebut dianggap sebagai langkah signifikan dalam restrukturisasi divisi game Xbox, yang telah mengalami kerugian substansial.

Menanggapi kritik, Frank Shaw, kepala komunikasi Microsoft, menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja tidak ada hubungannya dengan penggantian karyawan dengan pekerja asing. Ia menegaskan bahwa Sharma adalah CEO asli Amerika yang telah menjabat kurang dari lima bulan. Pengumuman ini jelas berkaitan dengan upaya penyelamatan divisi Xbox yang telah menghabiskan lebih dari 20 miliar dolar dalam lima tahun terakhir.

Keputusan Federal Reserve untuk memilih Sharma pada momen yang bisa dibilang tidak tepat ini tampaknya bukanlah hal yang diinginkan Microsoft. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi Sharma dalam mereformasi Xbox, dan pekerja menanti langkah-langkah selanjutnya di tengah ketidakpastian.