berita.akasta.ac.id – Substack baru saja meluncurkan fitur terbaru bernama “Reply Rules” yang bertujuan untuk memberikan kontrol lebih bagi para pembuat konten mengenai cara audiens memberi tanggapan. Fitur ini memungkinkan kreator untuk menetapkan pedoman tertentu terkait komentar dalam pos, catatan, atau obrolan. Pedoman ini dapat mencakup larangan penggunaan bahasa kasar atau permintaan untuk menjawab dalam bentuk haiku, misalnya.
Fitur ini bekerja dengan mempelajari tindakan pengguna, seperti menyembunyikan komentar, dan secara otomatis akan menyaring tanggapan yang tidak sesuai dengan preferensi kreator. Meskipun komentar yang disembunyikan tidak akan terlihat, kreator masih dapat mengaksesnya dan memutuskan untuk memperlihatkannya kembali jika diinginkan. Saat ini, “Reply Rules” sudah tersedia untuk publikasi berbahasa Inggris.
Substack mengambil pendekatan desentralisasi dalam moderasi konten, di mana penulis bertanggung jawab untuk mengelola komunitas mereka sendiri. Mereka memiliki akses ke beragam alat, termasuk opsi untuk mengunci pos agar tidak ada komentar tambahan, menghapus komentar, serta melarang atau menangguhkan pengguna jika diperlukan. Oleh karena itu, fitur baru ini diharapkan dapat mengurangi beban kreator dalam meneliti setiap komentar secara manual.
Meski demikian, Substack menghadapi kritik terkait praktik moderasi konten, terutama terkait newsletter sayap kanan yang dianggap memperbolehkan retorika berbahaya. Dalam pengumuman ini, Substack menegaskan kembali komitmennya untuk menciptakan komunitas online yang beragam meski itu melibatkan tantangan.
Pada tahun ini, Substack juga meluncurkan beberapa pembaruan lainnya, termasuk studio rekaman bawaan untuk mendukung kreator dalam membuat dan menerbitkan video, serta aplikasi TV yang memungkinkan pelanggan menonton pos video dan siaran langsung di layar televisi mereka.