berita.akasta.ac.id – SK Hynix, salah satu produsen chip memori terbesar di dunia, baru saja meluncurkan sahamnya di Wall Street pada hari Jumat dengan harga pembukaan mencapai $170 per saham. Perusahaan asal Korea Selatan ini berhasil mengumpulkan dana sebesar $26,5 miliar, mengalahkan rekor Alibaba sebagai debut terbesar perusahaan asing di bursa tersebut. Pencapaian ini menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap RAM seiring dengan boom teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pada bulan Mei, SK Hynix mencapai valuasi sebesar $1 triliun dan sempat menjadi perusahaan terharga di Korea Selatan, menggeser Samsung. Perusahaan ini termasuk dalam tiga raksasa yang diuntungkan dari lonjakan permintaan DRAM dan memori bandwidth tinggi (HBM). Komponen-komponen ini sangat penting bagi pembangunan pusat data AI yang meluas, di mana raksasa teknologi seperti OpenAI, Microsoft, dan Google memanfaatkan DRAM untuk server yang mendukung model AI mereka, sementara HBM dipaketkan di dalam chip AI kelas atas seperti Nvidia Blackwell Ultra.
Data dari Counterpoint menyebutkan bahwa hingga Juni 2026, SK Hynix menguasai 29 persen pasar DRAM global, diikuti oleh Samsung dengan 38 persen dan Micron sebanyak 22 persen. Kendati ketiga perusahaan ini tidak dapat memenuhi permintaan memori yang terus meningkat, mereka memilih untuk memprioritaskan pelanggan AI yang membayar lebih tinggi dibanding produsen perangkat yang memerlukan chip untuk ponsel, komputer, dan konsol game.
Ketua SK Group, Chey Tae-won, menyatakan bahwa perusahaan berencana untuk meningkatkan kapasitas chip memori dalam lima tahun ke depan untuk mengatasi kekurangan yang diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2030.